Urbanisasi yang pesat mengurangi ruang terbuka hijau dan lahan pertanian di perkotaan, sehingga mengancam ketahanan pangan masyarakat. Pemberdayaan komunitas melalui urban farming menjadi alternatif strategis, namun kajian tentang peran komunikasi partisipatif dalam konteks ini masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi komunikasi partisipatif yang diterapkan Komunitas Selaras Farm dalam membangun kemandirian ekonomi warga melalui program urban farming. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Tiga informan kunci dipilih secara purposive, yaitu Ketua, Koordinator, dan Pembina Komunitas Selaras Farm. Data penelitian kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman (reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan) dan keabsahan data diuji dengan triangulasi metode dan sumber. Hasil penelitian menunjukan bahwa Komunitas Selaras Farm menggunakan lima strategi komunikasi partisipatif yaitu komunikasi dialogis tatap muka dan virtual (grup WhatsApp), pelatihan dan edukasi anggota, keterlibatan aktif warga dalam pengembangan program, transparansi pengelolaan keuangan berbasis koperasi, serta membangun kepercayaan melalui pemanfaatan aset lokal. Strategi ini meningkatkan keterampilan bercocok tanam warga, mengurangi pengeluaran rumah tangga untuk pangan, dan menyediakan akses hasil panen dengan harga terjangkau. Komunikasi partisipatif efektif memberdayakan masyarakat perkotaan mencapai kemandirian ekonomi dengan mengoptimalkan lahan terbatas melalui urban farming. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan teori komunikasi partisipatif dalam konteks pertanian perkotaan dan menawarkan model pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas yang dapat direplikasi di wilayah permukiman urban lain.
Copyrights © 2026