Malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, termasuk di Kabupaten Pesawaran, Lampung, dengan Anopheles sp. sebagai vektor utama. Pengendalian vektor yang masih didominasi insektisida kimia berisiko menimbulkan resistensi dan dampak lingkungan, sehingga diperlukan alternatif pengendalian yang lebih ramah lingkungan. Jamur entomopatogen Metarhizium anisopliae berpotensi dikembangkan sebagai biolarvasida. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas M. anisopliae terhadap mortalitas larva instar III Anopheles sp., menentukan nilai LC₅₀, serta mengamati kerusakan morfologi larva akibat infeksi jamur. Penelitian dilakukan secara eksperimental di laboratorium menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tujuh perlakuan, terdiri atas enam pengenceran suspensi konidia M. anisopliae (10⁻¹ - 10⁻⁶) dan satu kontrol negatif, masing-masing tiga ulangan. Jamur dikultur pada media PDA dan konsentrasi konidia dihitung menggunakan hemocytometer. Larva instar III Anopheles sp. berasal dari habitat alami di Desa Hanura. Mortalitas larva diamati selama 72 jam dan dianalisis menggunakan ANOVA, uji Tukey, serta analisis probit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa M. anisopliae berpengaruh sangat nyata terhadap mortalitas larva (p < 0,001). Mortalitas tertinggi terjadi pada konsentrasi 10⁻⁶ dengan rerata kematian 76,66% ± 1,53 ekor, sedangkan kontrol tidak menunjukkan kematian. Analisis probit menunjukkan nilai LC₅₀ sebesar 5,33 × 105 spora/mL pada 72 jam paparan. Secara morfologis, larva terinfeksi mengalami kerusakan pada kutikula, sistem pencernaan, dan spirakel. Jamur M. anispoliae terbukti berpengaruh signifikan terhadap mortalitas larva Anopheles sp. secara konsentrasi-dependen, dengan nilai LC₅₀ sekitar 105 spora/mL, menyebabkan kerusakan morfologi pada larva instar III Anopheles sp. Kata kunci: Anopheles sp, Biolarvasida, LC50, Metarhizium anisopliae, Mortalitas Larva.
Copyrights © 2026