Penelitian ini mengkaji fenomena stagnasi operasional Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Desa Wilulang, Kecamatan Susukan Lebak, pascapembangunan infrastruktur senilai Rp 600.000.000,- pada tahun 2023. Magnitudo persoalan tampak dari menyusutnya jumlah petugas aktif dari lima menjadi satu orang serta terhentinya fungsi pemilahan dan pengomposan, sehingga infrastruktur senilai Rp 600.000.000,- tidak beroperasi secara optimal. Penelitian bertujuan mendeskripsikan kondisi eksisting, menganalisis faktor penyebab kesenjangan implementasi, serta merumuskan strategi komunikasi dan model pemberdayaan yang tepat. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan Focus Group Discussion (FGD) bersama Kuwu, pengurus KSM, dan petugas lapangan. Data dianalisis menggunakan kerangka SWOT dan 5M, diinterpretasikan melalui teori implementasi kebijakan Grindle, pendekatan proses belajar kelembagaan Korten, serta teori perencanaan dan strategi komunikasi pembangunan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesenjangan utama terletak pada lemahnya kapasitas kelembagaan dan absennya strategi komunikasi partisipatif dalam sosialisasi pemilahan sampah di sumber, khususnya ketiadaan komunikator tetap dan saluran komunikasi terjadwal bagi 320 rumah tangga dan 4 institusi pendidikan sasaran. Penelitian merekomendasikan strategi intervensi bertahap meliputi advokasi legalitas kepengurusan, standardisasi metode operasional disertai strategi komunikasi berbasis partisipasi masyarakat, dan penguatan tata kelola keuangan berbasis iuran warga.
Copyrights © 2026