Artikel ini menafsirkan ulang konsep vital Christianity dalam pemikiran William Wilberforce sebagai model teologi publik injili yang tidak hanya relevan, tetapi juga dapat dioperasionalkan dalam konteks Indonesia. Dengan pendekatan historis-teologis, penelitian ini menunjukkan bahwa spiritualitas injili tidak dapat berhenti pada kesalehan privat, melainkan perlu diwujudkan dalam praksis publik yang konkret dalam merespons perbudakan modern, termasuk perdagangan orang, eksploitasi pekerja domestik, dan kerja paksa. Artikel ini mengusulkan suatu kerangka operasional yang dapat diterapkan secara institusional, antara lain melalui kontrak kerja yang adil, perlindungan pekerja, keterlacakan rantai pasok, serta mekanisme respons terhadap korban. Melalui lensa dekolonial, pengalaman korban di konteks Asia–Indonesia ditempatkan sebagai titik berangkat refleksi etis, sehingga teologi tidak berhenti pada abstraksi, tetapi berakar pada realitas penderitaan yang konkret. Kontribusi utama tulisan ini terletak pada upaya mempertemukan spiritualitas injili dengan tindakan publik yang terukur dan bertanggung jawab, sehingga iman Kristen tidak berhenti pada kesalehan pribadi, tetapi hadir sebagai praksis yang sungguh-sungguh transformatif dalam menghadapi ketidakadilan struktural.
Copyrights © 2026