Perkembangan komunikasi digital melalui aplikasi WhatsApp telah meningkatkan risiko kejahatan siber, khususnya penipuan berbasis tautan undangan palsu yang memanfaatkan rekayasa sosial untuk mencuri data pribadi dan mengambil alih akun pengguna. Fenomena ini semakin meningkat seiring rendahnya literasi keamanan digital masyarakat serta tingginya intensitas penggunaan WhatsApp sebagai media komunikasi utama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis modus penipuan tautan undangan WhatsApp dan menjelaskan perilaku protektif pengguna berdasarkan Protection Motivation Theory (PMT). Penelitian menggunakan metode studi literatur dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui penelaahan jurnal ilmiah, artikel akademik, laporan keamanan siber, dan penelitian terdahulu yang relevan pada rentang tahun 2020–2025. Literatur dipilih berdasarkan kesesuaian topik, relevansi terhadap phishing WhatsApp, dan keterkaitan dengan aspek perilaku pengguna digital. Analisis dilakukan menggunakan teknik content analysis untuk mengidentifikasi tema utama yang kemudian dipetakan ke dalam konstruk PMT, yaitu perceived severity, perceived vulnerability, response efficacy, dan self-efficacy. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penipuan tautan undangan WhatsApp berhasil memanfaatkan rendahnya persepsi kerentanan pengguna, tingginya kepercayaan sosial terhadap pesan personal, serta terbatasnya kemampuan pengguna dalam mengenali indikasi phishing digital. Selain itu, pengguna yang memiliki literasi keamanan digital dan efikasi diri yang baik cenderung lebih mampu melakukan tindakan protektif, seperti memverifikasi identitas pengirim dan menghindari tautan mencurigakan. Penelitian ini memberikan kontribusi konseptual dalam memahami hubungan antara faktor psikologis pengguna dan ancaman phishing digital, sekaligus menjadi dasar pengembangan edukasi keamanan digital berbasis perilaku pengguna.
Copyrights © 2026