Jerawat merupakan gangguan kulit yang umum terjadi dan memengaruhi sekitar 80–85% remaja serta dewasa muda di Indonesia. Pada penelitian sebelumnya, ethyl p-methoxycinnamate (EPMC) merupakan senyawa utama dari rimpang kencur (Kaempferia galanga L.) yang memiliki aktivitas antibakteri dengan konsentrasi hambat minimum (KHM) sebesar 1,2% b/v terhadap Cutibacterium acnes, bakteri utama penyebab jerawat. Dalam upaya meningkatkan kemudahan penggunaan dan potensi terapinya, dikembangkan sediaan masker clay sebagai sistem penghantaran topikal yang inovatif. Penelitian ini bertujuan memperoleh formula masker clay yang teroptimasi menggunakan Desain Box–Behnken, dengan kaolin (15–30% b/b), bentonit (1–2% b/b), dan xanthan gum (0,5–1% b/b) sebagai faktor, serta respon yang dievaluasi meliputi pH, viskositas, dan waktu mengering. Optimasi menghasilkan formula optimum yang mengandung 26,925% b/b kaolin, 1,808% b/b bentonit, dan 0,854% b/b xanthan gum dengan nilai desirabilitas 1,000. Masker clay optimum memiliki pH 7,560 ± 0,0899, viskositas 20.583,33 ± 650,85 mPa·s, waktu mengering 25,58 ± 1,36 menit, daya sebar 4,038 ± 0,096 cm, daya lekat 8,80 ± 1,018 detik dan uji antibakteri menunjukkan zona hambat sedang sebesar 6,969 ± 0,896 mm, lebih besar dibandingkan EPMC murni. Secara keseluruhan, formula optimum masker clay EPMC menunjukkan sifat fisik yang baik serta aktivitas antibakteri dalam kategori sedang yang berpotensi mendukung terapi jerawat.
Copyrights © 2026