Ekspansi sawit telah membawa perubahan signifikan terhadap kehidupan masyarakat. Kehadiran sawit bukan semata soal ekonomi, melainkan juga menciptakan gagasan kehidupan baru, khususnya terkait makna kerja dan waktu. Di Buluh Nipis, perubahan komoditas domestik dan mode produksi dari karet dan nelayan ke sawit menghadirkan pengalaman kerja dan pola hidup yang berbeda. Penelitian ini mengangkat persoalan bagaimana masyarakat memaknai kerja dan waktu senggang dalam relasi kerja sawit yang cenderung lebih longgar dibandingkan sebelumnya. Tujuannya adalah memahami kenyataan tersebut secara etnografis: bagaimana waktu senggang yang terbentuk dari sistem kerja sawit dijalani dan dimaknai sebagai ruang yang penuh potensi, membentuk praktik sosial, nilai baru, dan pola perilaku sehari-hari. Dengan metode kualitatif etnografis observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan analisis catatan lapangan, penelitian ini menemukan bahwa waktu senggang bukan ruang kosong yang tidak produktif, melainkan surplus waktu yang dijalani untuk kebutuhan sosial, kultural, dan ekonomis: dari kegiatan ekonomi sampingan, penyehatan jasmani dan rohani, membangun relasi sosial, hingga refleksi hidup. Penelitian ini menyimpulkan bahwa sawit tidak hanya membentuk struktur ekonomi-sosial baru, tetapi juga gagasan supra-struktural, yakni cara masyarakat memaknai kerja, waktu, dan kesejahteraan. Supra-struktur di sini dipahami sebagai ranah nilai, ide, dan moralitas yang melampaui aspek material produksi, yang dalam konteks Buluh Nipis terwujud dalam pemaknaan baru bahwa keberhasilan tidak lagi diukur dari kerasnya bekerja, tetapi dari kemampuan mengelola waktu, menjaga tubuh, dan merawat relasi sosial.
Copyrights © 2025