Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penerapan model Love Based Story Telling dalam mendukung pembelajaran mendalam di kelas, sekaligus mengidentifikasi kendala dan tantangan yang muncul dalam pelaksanaannya. Subjek penelitian adalah guru di Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Klaten dan MAN Sukoharjo. Informan penelitian ini adalah guru. Teknik pengumpulan data yaitu wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini yaitu Penerapan model ini agar efektif dan terarah dilakukan melalui langkah-langkah sistematis, yaitu: (1) pembukaan dan pengondisian love climate untuk membangun suasana kasih sayang; (2) penyajian cerita bermakna (story delivery) yang terkait materi; (3) pemaknaan dan dialog reflektif (meaning making discussion); serta (4) aksi dan penguatan (action & reinforcement) disertai penilaian. Hasil kajian menunjukkan bahwa model ini berpotensi memperkuat pembelajaran mendalam karena membantu siswa memahami materi secara kontekstual, merefleksikan nilai, dan mengaitkannya dengan kehidupan nyata. Namun, pelaksanaannya masih menghadapi dua persoalan utama. Pertama, rendahnya keterampilan guru dalam teknik bercerita, yang berdampak pada kurang hidupnya penyampaian cerita, alur yang kurang terarah, serta pengelolaan waktu yang belum efektif. Kedua, tantangan menjaga keterlibatan seluruh siswa dari tahap cerita hingga refleksi akibat perbedaan perhatian, minat, dan gaya belajar, sehingga partisipasi siswa belum merata. Oleh karena itu, keberhasilan penerapan Love Based Story Telling memerlukan peningkatan kompetensi storytelling guru serta strategi pembelajaran yang variatif agar seluruh siswa terlibat aktif dan memperoleh pemahaman yang bermakna.
Copyrights © 2026