Kerusakan lingkungan yang memicu banjir dan tanah longsor di Pulau Sumatera mencerminkan kegagalan paradigma pembangunan modern yang bersifat antroposentris dan eksploitatif. Artikel ini bertujuan menganalisis krisis ekologi di Sumatera melalui perspektif filsafat postmodernisme sebagai pendekatan kritis terhadap narasi pembangunan dominan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan filosofis-kritis melalui studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa postmodernisme, melalui kritik terhadap metanarasi modernitas, relasi kuasa, dan rasionalitas instrumental, mampu mengungkap bahwa bencana ekologis bukan semata-mata fenomena alam, melainkan produk konstruksi sosial, politik, dan diskursif yang dilegitimasi oleh praktik pembangunan. Oleh karena itu, artikel ini menegaskan pentingnya dekonstruksi paradigma pembangunan modern serta integrasi etika lingkungan postmodern dan kearifan lokal sebagai dasar perumusan kebijakan pengelolaan lingkungan yang berkeadilan dan berkelanjutan.
Copyrights © 2026