Introduction: Very early adolescent pregnancy is associated with significantly increased maternal and neonatal risks, particularly in resource-limited and malaria-endemic settings. The coexistence of hypertensive disorders and infectious diseases may further worsen outcomes, especially when antenatal care is absent.Case Report: A 12-year-old primigravida from a malaria-endemic area presented with fever and back pain and had no prior antenatal care. Examination at 29 – 30 weeks’ gestation revealed hypertension and severe oligohydramnios. Laboratory testing showed anemia, thrombocytopenia, and proteinuria, and confirmed Plasmodium falciparum and genitourinary infections. Management included magnesium sulfate, antimalarial therapy, and antibiotics. Despite treatment, preterm labor ensued, resulting in vaginal delivery of a 1,200 g neonate who required resuscitation and intensive care. The neonate developed prematurity-related complications and died on the sixth day of life. The mother recovered without major postpartum complications.Conclusion: This case highlights the cumulative impact of very early maternal age, hypertensive disease, endemic infection, and a lack of antenatal care on adverse pregnancy outcomes. Reports of such complex presentations among very early adolescents remain limited. Strengthening early detection and integrated care is essential to improving outcomes in vulnerable populations.Kehamilan pada Usia 12 Tahun dengan Komplikasi Preeklamsia dan Malaria yang Mengakibatkan Kematian Neonatal: Sebuah Laporan KasusAbstrakPendahuluan: Kehamilan pada usia remaja awal memiliki kaitan erat dengan peningkatan risiko maternal dan neonatal secara signifikan, terutama di daerah dengan sumber daya terbatas dan endemis malaria. Koeksistensi antara gangguan hipertensi dan penyakit infeksi dapat semakin memperburuk luaran klinis, khususnya jika tidak terdapat pemeriksaan antenatal (ANC).Laporan Kasus: Seorang remaja primigravida berusia 12 tahun berasal dari daerah endemis malaria datang dengan keluhan demam dan nyeri punggung tanpa riwayat pemeriksaan antenatal sebelumnya. Pemeriksaan fisik menunjukkan adanya hipertensi dan oligohidramnion berat pada usia kehamilan 29 – 30 minggu. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan anemia, trombositopenia, proteinuria, serta terkonfirmasi adanya infeksi Plasmodium falciparum dan infeksi saluran kemih. Pasien ditatalaksana dengan pemberian magnesium sulfat, terapi antimalaria, dan antibiotik. Meskipun telah diberikan penanganan, persalinan prematur tetap terjadi, yang berujung pada persalinan per vaginam dengan berat lahir neonatus 1.200 gram. Neonatus tersebut memerlukan resusitasi dan perawatan intensif. Meskipun telah diberikan penanganan, persalinan prematur tetap tidak dapat dicegah. Pasien kemudian melahirkan per vaginam dengan berat lahir neonatus 1.200 gram, dan neonatus memerlukan resusitasi serta perawatan intensif. Namun mengalami komplikasi terkait prematuritas dan meninggal pada hari keenam kehidupannya. Ibu pulih tanpa komplikasi pascapersalinan yang bermakna.Kesimpulan: Kasus ini menyoroti dampak dari usia maternal yang ekstrem, penyakit hipertensi, infeksi endemis, dan tidak dilakukannya pemeriksaan antenatal terhadap luaran kehamilan yang buruk. Laporan mengenai gambaran kasus yang kompleks pada usia remaja awal masih sangat terbatas. Peningkatan upaya deteksi dini dan perawatan antenatal terpadu sangat penting untuk memperbaiki luaran klinis pada kelompok populasi yang rentan.
Copyrights © 2026