Penelitian ini mengkaji pengaruh tren Budaya Populer Asia (Korea dan China) terhadap transformasi preferensi Fesyen Pria di Indonesia, yang sering kali berujung pada kegagalan bisnis rintisan lokal akibat ketidaksesuaian antara estetika produk dan kebutuhan pasar (product-market mismatch). Untuk mengatasi celah tersebut, penelitian kualitatif terapan ini mengimplementasikan metode Design Thinking sebagai kerangka kerja utama yang berpusat pada manusia. Data dikumpulkan melalui teknik triangulasi yang mencakup wawancara mendalam, observasi pasar terhadap Generasi Z, serta studi literatur. Hasil pengujian purwarupa menunjukkan bahwa penerapan tahapan empati hingga iterasi berhasil mensintesis pakaian berestetika Asia Timur, seperti siluet oversized dan teknik layering dengan fungsionalitas yang sesuai untuk Iklim Tropis. Modifikasi menggunakan material pakaian yang breathable dan anti keringat terbukti menjawab pain points konsumen terkait kenyamanan mobilitas urban. Kesimpulan studi ini menegaskan bahwa integrasi antara gaya global dan kenyamanan lokal tidak hanya menghasilkan inovasi produk yang tervalidasi secara komersial, tetapi juga secara langsung mendorong peningkatan keterampilan penjahit lokal, sehingga memperkuat ekosistem Ekonomi Kreatif secara berkelanjutan.
Copyrights © 2026