Praktik memasak tradisional Minangkabau sangat bergantung pada kayu bakar sebagai bahan bakar utama. Praktik ini mempertahankan rasa otentik masakan, tetapi memasak di ruang tertutup menyebabkan polusi udara. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji variasi konsentrasi NO2 dalam ruangan yang dihasilkan dari aktivitas memasak dengan kayu bakar di dapur restoran tradisional Minangkabau, serta mengevaluasi pengaruh tata letak ruangan dan ventilasi terhadap distribusi polutan. Tujuh titik pemantauan dipilih berdasarkan tata letak ruangan, intensitas kegiatan memasak, dan akses ventilasi di dapur restoran Minangkabau di Padang Panjang, Sumatera Barat. Tabung difusi tipe Palmes mengukur konsentrasi NO₂ mingguan selama 6 minggu. Sampel dianalisis menggunakan metode Griess Saltzman, menghasilkan konsentrasi NO₂ rata-rata 288 μg/m³. Dengan pola aktivitas harian yang relatif konsisten sepanjang tahun, konsentrasi rata-rata NO₂ jauh di atas ambang batas Standar Kualitas Udara Dalam Ruangan yang ditetapkan oleh Permenkes No.2/2023, mengindikasikan potensi dampak kesehatan jangka panjang. Konsentrasi NO2 di tujuh titik pengukuran bervariasi. Konsentrasi tertinggi terukur pada titik terdekat dengan tungku memasak, yang memiliki ventilasi terbatas. Konsentrasi NO₂ di dapur tetap ada bahkan ketika tidak memasak, menunjukkan bahwa polutan dapat bertahan karena sirkulasi udara yang buruk selama memasak. Temuan ini menunjukkan pentingnya meningkatkan sirkulasi udara, ventilasi, dan sistem ekstraksi asap di dapur tradisional untuk mengurangi akumulasi polutan udara dalam ruangan tanpa mengubah praktik memasak yang merupakan bagian dari budaya lokal. Upaya ini dapat mendukung pengelolaan kualitas udara dalam ruangan dan berkontribusi dalam pencapaian Target SDG 3.9, yang bertujuan untuk mengurangi dampak kesehatan dari polusi udara.
Copyrights © 2026