Fenomena fatherless atau krisis ketidakhadiran figur ayah, baik secara fisik maupun psikologis, merupakan ancaman kontemporer yang mendegradasi perkembangan psikospiritual generasi muda, terutama melalui distorsi identitas diri dan krisis harga diri (self-esteem). Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan model restorasi identitas diri bagi korban fatherless melalui pendekatan pemuridan kontekstual yang mengadopsi pola kemuridan Yesus. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research) yang diintegrasikan dengan eksegesis tekstual, penelitian ini membedah pola relasi interpersonal antara Yesus dan para murid dalam teks-teks Injil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola kemuridan Yesus menawarkan rekonstruksi hubungan paternal (bapa-anak) yang transformatif bagi korban fatherless. Melalui tahapan pemuridan yang berbasis pada penerimaan tanpa syarat (unconditional acceptance), pendampingan intensif (intentional discipling), dan pemulihan citra diri Allah (Imago Dei), individu mengalami restorasi identitas yang signifikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemuridan kontekstual berpola kemuridan Yesus tidak sekadar berfungsi sebagai sarana transfer doktrinal-legalistik, melainkan bertindak sebagai ruang terapeutik-pastoral yang efektif dalam mengisi kekosongan fungsi keayahan dan merekonstruksi identitas diri yang rusak.
Copyrights © 2026