Conventional rice cultivation practices commonly applied by farmers in rural areas are generally inefficient in the use of seeds, water, and production inputs, and are not yet integrated with downstream post-harvest systems. This community service program aimed to enhance the knowledge and capacity of farmers in Surau Village, Taba Penanjung District, Central Bengkulu Regency, by introducing the System of Rice Intensification (SRI) cultivation technology and downstream post-harvest handling through independent rice packaging. The methods employed included extension activities, participatory discussions, demonstrations, and evaluation using pre-test and post-test administered to 50 participants. The results showed a significant improvement in participants’ understanding across all measured aspects. The average scores for SRI knowledge increased from 2.5 to 4.3 (72.0%), cultivation efficiency from 2.4 to 4.2 (75.0%), and understanding of rice downstreaming from 2.3 to 4.3 (86.9%). In addition, the majority of participants expressed interest in adopting SRI technology and developing rice-based downstream enterprises. This program improved the community's technical capacity and promoted the adoption of more efficient and sustainable rice cultivation practices, while also creating opportunities to strengthen rural economic development through value-added rice products. Budidaya padi konvensional yang masih banyak diterapkan oleh petani di pedesaan umumnya kurang efisien dalam penggunaan benih, air, dan input produksi, serta belum terintegrasi dengan sistem hilirisasi hasil panen. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk membantu meningkatkan pemahaman, pengetahuan, serta kapasitas petani di Desa Surau, Kecamatan Taba Penanjung, Kabupaten Bengkulu Tengah melalui introduksi teknologi budidaya tanaman padi System of Rice Intensification (SRI) serta penanganan pascapanen berbasis hilirisasi melalui pengemasan beras secara mandiri. Metode pelaksanaan kegiatan meliputi penyuluhan, diskusi partisipatif, demonstrasi, serta evaluasi menggunakan pre-test dan post-test terhadap 50 peserta. Hasil kegiatan menunjukkan terjadinya peningkatan pemahaman masyarakat yang signifikan pada seluruh aspek yang dievaluasi. Rata-rata skor pemahaman teknologi SRI meningkat dari 2,5 menjadi 4,3 (72,0%), efisiensi budidaya dari 2,4 menjadi 4,2 (75,0%), serta pemahaman hilirisasi beras dari 2,3 menjadi 4,3 (86,9%). Selain itu, sebagian besar peserta menunjukkan minat untuk mengadopsi teknologi SRI dan mengembangkan usaha berbasis hilirisasi beras. Kegiatan ini berkontribusi dalam meningkatkan kapasitas teknis masyarakat serta mendorong penerapan teknologi budidaya padi yang lebih efisien dan berkelanjutan, sekaligus membuka peluang penguatan ekonomi desa melalui peningkatan nilai tambah produk padi.
Copyrights © 2026