Media sosial telah bertransformasi menjadi ruang interaktif fundamental bagi mahasiswa untuk mengekspresikan identitas, membangun relasi, dan mengakses informasi. Namun, kemudahan ini dibarengi dengan eskalasi masalah etika digital, seperti ujaran kebencian, perundungan siber, dan penyebaran disinformasi, yang mencerminkan fenomena "kesenjangan identitas online". Studi ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi makna tanggung jawab moral mahasiswa, mengeksplorasi peran hati nurani sebagai mekanisme reflektif, dan mengidentifikasi determinan perilaku etis di ruang digital. Menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan fenomenologi deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur mendalam terhadap mahasiswa di sebuah perguruan tinggi swasta berlatar belakang humanistik di Bandung, selama periode pengumpulan data satu hingga dua bulan. Untuk menjaga etika penelitian dan privasi institusi, identitas perguruan tinggi disamarkan. Temuan menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki kesadaran normatif yang kuat mengenai tanggung jawab moral, yang melekat pada identitas mereka sebagai "insan terdidik". Namun, terdapat diskrepansi antara kesadaran kognitif dan konsistensi praktis. Hati nurani berfungsi sebagai "rem internal" yang bersifat preventif (conscientia recta), memandu mahasiswa untuk menahan impuls destruktif di tengah tekanan algoritma dan budaya viral. Perilaku etis sangat dipengaruhi oleh interaksi antara faktor internal (kontrol diri, literasi moral) dan eksternal (desain algoritma, tekanan peers). Studi ini berkontribusi pada literatur etika digital dan filsafat moral dengan mengintegrasikan teori tanggung jawab moral P.F. Strawson dan teori hati nurani Thomas Aquinas ke dalam konteks non-Barat, menegaskan bahwa kepatuhan hukum tidak memadai tanpa otonomi moral dan pendidikan karakter digital yang komprehensif.
Copyrights © 2026