Integrasi Layanan Primer (ILP) merupakan kebijakan nasional yang bertujuan mentransformasikan Posyandu menjadi layanan kesehatan komunitas berbasis siklus hidup yang komprehensif. Kota Semarang sebagai wilayah perkotaan dengan keragaman demografis, mobilitas penduduk yang tinggi, serta variasi capaian Posyandu antarwilayah menghadapi tantangan berupa fragmentasi layanan, ketidaksinkronan data, dan kebutuhan integrasi pencatatan digital. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pelaksanaan Posyandu ILP di Kota Semarang menggunakan model CIPP (Context, Input, Process, Product). Penelitian ini menggunakan desain kualitatif deskriptif. Populasi penelitian meliputi Posyandu ILP di Kota Semarang dengan sampel enam kelurahan, yaitu Srondol Wetan, Karangayu, Tlogosari Kulon, Rowosari, Muktiharjo Kidul, dan Gemah. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Variabel penelitian meliputi komponen context, input, process, dan product. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi langsung, dan telaah dokumen. Analisis data dilakukan secara tematik dengan mengelompokkan temuan berdasarkan komponen model CIPP. Aspek context menunjukkan bahwa ILP relevan dalam mengatasi fragmentasi layanan dan memperkuat akses layanan primer. Aspek input mengindikasikan ketersediaan tenaga kesehatan dan kader yang memadai, namun masih terdapat keterbatasan pada kompetensi digital, sarana antropometri, dan pendanaan. Aspek process menunjukkan perencanaan dan monitoring telah berjalan, meskipun pelaksanaan bervariasi akibat keterampilan kader dan kendala aplikasi ASIK. Aspek product menunjukkan peningkatan cakupan layanan dan integrasi data, tetapi kehadiran sasaran dan ketepatan pelaporan digital belum optimal. Pelaksanaan Posyandu ILP di Kota Semarang memberikan kontribusi positif terhadap penguatan layanan kesehatan primer di tingkat komunitas, namun efektivitas program perlu ditingkatkan melalui penguatan sumber daya manusia, sarana digital, dan dukungan multisektoral.
Copyrights © 2026