Fenomena pengibaran bendera One Piece menjelang HUT RI ke-80 memicu perdebatan tentang kritik sosial, kebebasan berekspresi, dan penghormatan terhadap simbol negara. Penelitian ini menganalisis resepsi khalayak terhadap konstruksi makna dalam lima konten Instagram @felix.siauw periode 2–11 Agustus 2025 menggunakan pendekatan kualitatif dan model encoding-decoding Stuart Hall. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan sepuluh informan yang dipilih secara purposif, observasi konten, dan dokumentasi digital. Hasil menunjukkan enam informan berada pada posisi dominan, tiga pada posisi negosiasi, dan satu pada posisi oposisi. Posisi dominan menerima bendera One Piece sebagai simbol kritik dan kepedulian terhadap bangsa; posisi negosiasi menerimanya dengan batasan etika, konteks, dan framing figur publik; sedangkan posisi oposisi menolak penggunaannya pada momentum kebangsaan dan menilai konten cenderung provokatif. Temuan menunjukkan bahwa Instagram menjadi ruang produksi dan kontestasi makna, sementara simbol budaya populer dapat memperoleh fungsi sosial-politik baru, tetapi makna yang ditawarkan figur publik tetap terbuka untuk diterima, dinegosiasikan, maupun ditolak oleh khalayak.
Copyrights © 2026