Kesenjangan komunikasi antara dunia akademik dan ruang publik sering kali menempatkan akademisi sekadar sebagai narasumber pasif di media konvensional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik jurnalisme partisipatif dalam produksi artikel berbasis riset di The Conversation Indonesia (TCID) melalui dimensi akses, interaksi, dan partisipasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap penulis dan editor TCID, serta dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TCID menerapkan model jurnalisme partisipatif yang tidak setara dalam bentuk partisipasi terbatas, bukan partisipasi penuh. Dimensi akses terwujud secara eksklusif melalui penyediaan platform dashboard digital dengan seleksi filter kepakaran yang ketat sejak tahap pitching. Dimensi interaksi berjalan melalui hubungan "tarik-menarik" profesional antara editor dan akademisi, di mana Editor Eksekutif memegang otoritas tertinggi sebagai pemegang keputusan akhir jika terjadi kebuntuan. Dimensi partisipasi hanya memberikan kekuasaan teknis redaksional kepada akademisi melalui mekanisme final approval di level mikro produksi artikel, tanpa adanya keterlibatan publik dalam pengelolaan mandiri (self-management) organisasi di level makro kelembagaan. Simpulan penelitian menegaskan bahwa praktik kolaborasi di TCID sepenuhnya berjalan di bawah kontrol dan regulasi institusi pers, bukan sebagai kemitraan yang setara secara penuh.
Copyrights © 2026