Era Masyarakat 5.0 membawa perubahan besar dalam kehidupan keluarga akibat dominasi teknologi digital. Esai ini membahas krisis kehadiran emosional dalam keluarga yang dipengaruhi budaya attention economy dan perilaku parental phubbing. Melalui pendekatan reflektif dan studi literatur, tulisan ini menunjukkan bagaimana media sosial dan algoritma digital merebut perhatian manusia, memicu kecemasan sosial (fear of missing out/FoMO), serta membentuk phone-based childhood pada remaja yang berdampak pada kesehatan mental mereka. Persoalan tersebut tidak hanya dialami remaja, tetapi juga orang tua yang hidup dalam distraksi digital serupa. Akibatnya, rumah perlahan kehilangan fungsi sebagai ruang percakapan dan kedekatan emosional. Esai ini menawarkan gagasan tentang pentingnya menciptakan “ruang hening” dalam keluarga, yaitu ruang bebas distraksi digital yang memungkinkan manusia kembali mendengar, berbicara, dan hadir sepenuhnya bagi sesamanya.
Copyrights © 2026