Perkembangan teknologi digital dan media sosial telah mengubah fundamental cara masyarakat berinteraksi, bertransformasi dari sekadar alat komunikasi menjadi arena pembentukan eksistensi diri dan pencarian validasi sosial. Fenomena ini melintasi berbagai generasi, dengan karakteristik penggunaan yang berbeda namun kebutuhan mendasar akan pengakuan yang sama. Artikel ini mengkaji hubungan antara kesehatan mental, eksistensi diri, dan validasi sosial antar generasi di era digital melalui tinjauan literatur. Analisis terhadap pola penggunaan media sosial dan dampaknya terhadap psikologis individu menunjukkan bahwa budaya validasi digital, seperti flexing dan FOMO, dapat memengaruhi kesehatan mental jika tidak diimbangi dengan literasi digital dan kontrol diri yang memadai. Oleh karena itu, kesadaran dalam menggunakan media sosial secara bijak sangat penting untuk memanfaatkan teknologi secara positif tanpa mengorbankan kesejahteraan mental.
Copyrights © 2026