Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan telah mendorong transformasi manajemen sumber daya manusia menuju paradigma People management 5.0 yang berpusat pada manusia (human-centered). Artikel ini bertujuan mengkaji tantangan psikologis yang muncul akibat digitalisasi serta merumuskan strategi pengelolaan SDM yang mampu menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan kesejahteraan manusia. Kajian ini menggunakan pendekatan konseptual berbasis literatur dari perspektif Psikologi Industri dan Organisasi untuk mengeksplorasi fenomena technostress, automation anxiety, krisis makna kerja, serta perubahan pola interaksi sosial dalam lingkungan kerja digital dan hibrida. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa digitalisasi yang tidak diimbangi dengan kesiapan psikologis berpotensi menimbulkan kelelahan mental, keterasingan kerja, menurunnya kohesi sosial, dan resistensi terhadap perubahan. Untuk mengatasi tantangan tersebut, organisasi perlu membangun iklim keamanan psikologis, menerapkan kepemimpinan otentik digital, menumbuhkan growth mindset kolektif, serta memberikan ruang bagi digital job crafting guna meningkatkan otonomi dan keterlibatan karyawan. Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan implementasi People management 5.0 tidak ditentukan oleh kecanggihan teknologi semata, melainkan oleh kemampuan organisasi dalam mengintegrasikan inovasi digital dengan kebutuhan psikologis manusia. Dengan demikian, paradigma ini menawarkan pendekatan yang lebih berkelanjutan dalam menciptakan lingkungan kerja yang adaptif, tangguh, dan bermakna di tengah disrupsi teknologi yang terus berkembang..
Copyrights © 2026