Pendahuluan: Konstipasi merupakan gangguan saluran pencernaan yang ditandai dengan jarangnya frekuensi buang air besar, feses keras, serta kesulitan saat defekasi yang dapat menurunkan kualitas hidup apabila tidak ditangani secara tepat. Akupunktur menjadi salah satu terapi komplementer nonfarmakologis yang digunakan untuk membantu memperbaiki fungsi usus berdasarkan prinsip Traditional Chinese Medicine (TCM). Tujuan: Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan asuhan akupunktur pada penderita konstipasi di Griya Sehat "HS" Bandung. Metode Penelitian: Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus pada satu partisipan penderita konstipasi. Partisipan menjalani enam kali terapi akupunktur berturut-turut. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, pengamatan, perabaan, dan pemeriksaan akupunktur menggunakan Lembar Data Klien, kemudian dianalisis secara deskriptif dengan membandingkan kondisi partisipan sebelum, selama, dan sesudah terapi. Hasil: Partisipan didiagnosis mengalami konstipasi dengan sindrom Akumulasi Panas (Re Jie Bian Mi). Setelah enam kali terapi akupunktur menggunakan titik Tianshu (ST25), Shangjuxu (ST37), Quchi (LI11), dan Neiting (ST44) menggunakan metode manipulasi sedasi, Zhongwan (CV12), Sanyinjiao (SP6), dan Zhaohai (KI6) dengan metode manipulasi tonifikasi, terjadi perbaikan klinis secara bertahap. Frekuensi buang air besar meningkat dari 2–3 hari sekali menjadi satu kali setiap hari, konsistensi feses menjadi lebih lunak dan normal, rasa penuh pada abdomen berkurang, kondisi lidah membaik, serta kondisi umum partisipan menjadi lebih nyaman. Kesimpulan: Asuhan akupunktur berdasarkan penegakan diagnosis sindrom TCM efektif membantu memperbaiki gejala konstipasi sehingga berpotensi menjadi terapi komplementer dalam penatalaksanaan konstipasi.
Copyrights © 2026