Kurikulum pendidikan desain di Indonesia masih dominan menggunakan sistematika warna Barat, sehingga pemahaman warna lokal relatif terbatas. Perlu dikaji warna khas suku dalam upaya memberi ciri budaya pada ruang interior. Penelitian ini bertujuan menggali cara pandang dan nilai-nilai yang membangun konsep warna budaya Jawa dan Kalimantan. Mengkaji sejauh mana pengetahuan warna nusantara dikenal dan diimplementasikan pada rancangan desainer interior. Metode deskriptif analitis, dengan pendekatan etnografi, melalui analisa 9 rancangan interior yang mengusung thema budaya the soul of Java dan the Voyage of Borneo dalam membentuk karakter lokal. Kajian menggunakan teori warna Brewsters dan konsep warna Jawa dan Kalimantan. Hasil penelitian, Jawa dan Kalimantan memiliki warna primer yang sama. Warna paralel dengan filosofi hidup, melambangkan kesadaran memposisikan diri sebagai bagian dari makrokosmos dan metakosmos. Teori warna Brewster digunakan secara paralel untuk membaca harmoni, kontras, dan keseimbangan dalam penerapan warna budaya, dengan menambah artefak mampu memperkuat karakter ruang. Tidak semua warna primer budaya dapat diimplementasikan dalam satu ruang karena pertimbangan psikologis, fungsi, dan cita rasa pengguna. Thema The Soul of Java, memilih dominasi hijau dengan aksen kuning emas, mengacu pada arsitektur Keraton Yogyakarta. Thema The Voyage of Borneo menggunakan dominasi hitam-putih dengan aksen merah, kuning, dan hijau, diperkuat material kayu, sesuai karakter geografis dan iklim tropis. Warna budaya memiliki potensi dikembangkan sebagai citra identitas nusantara.
Copyrights © 2025