Film animasi Si Juki: Harta Pulau Monyet dianalisis dalam makalah ini sebagai teks budaya yang mereproduksi dan menegosiasikan realitas sosial-budaya Indonesia dalam konteks industri animasi global. Pendekatan Analytical Critical Discourse Analysis (ACDA) dari Norman Fairclough, pada penelitian ini mengeksplorasi tiga dimensi utama, analisis teks, praktik wacana, dan praktik sosial-kultural, untuk memahami animasi sebagai wacana ideologis yang terlibat dalam pembentukan identitas, nilai, dan relasi kuasa. Nilai gotong royong, keberagaman, dan solidaritas ditampilkan melalui visualisasi lokal seperti hutan tropis, logat daerah, serta simbol-simbol budaya tradisional, menjadikan lokalitas bukan sekadar latar, melainkan kekuatan naratif dan ideologis. Analisis dilengkapi dengan teori media capital dari Michael Curtin yang memposisikan Jakarta sebagai pusat produksi kultural di Asia Tenggara, serta perspektif poskolonial dari Shohat dan Stam yang melihat animasi ini sebagai bagian dari sinema Dunia Ketiga yang menghadirkan resistensi terhadap dominasi estetika dan narasi Barat. Film Si Juki juga dilihat sebagai bagian dari praktik diplomasi budaya melalui distribusi digital dan keterlibatannya dalam arena festival internasional, memperlihatkan bagaimana animasi lokal dapat menjadi medium soft power. Dengan memadukan nilai lokal dan strategi global, film ini menunjukkan potensi animasi sebagai arena kontestasi simbolik, ekonomi, dan ideologis dalam arus globalisasi budaya kontemporer.
Copyrights © 2025