Artikel ini membahas gagasan Saifuddin Zuhri Qudsy mengenai relasi antara teks Al-Qur’an dan hadis dengan praktik sosial-budaya masyarakat Indonesia. Berangkat dari asumsi bahwa teks keagamaan sering mengalami kesenjangan konteks kultural dengan masyarakat-Arab, Saifuddin menawarkan pendekatan yang mengintegrasikan studi Al-Qur’an-hadis dengan disiplin sosial-antropologis. Tujuan tulisan ini adalah untuk mengelaborasi prinsip-prinsip pemikiran Saifuddin dalam melihat resepsi, performasi, dan aktualisasi budaya masyarakat berbasis teks normatif. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif terhadap karya-karya Saifuddin sebagai sumber primer. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa Saifuddin membangun tiga prinsip utama: pertama, keterpengaruhan budaya terhadap teks Al-Qur’an-hadis; kedua, performasi variatif antara praktik sosial dan teks; ketiga, integrasi dan interkoneksi antara teks dengan teori sosial-antropologis. Ketiga prinsip ini mempertegas bahwa tradisi, ritual, dan praktik keagamaan yang hidup di masyarakat merupakan bentuk legitimasi dan aktualisasi pemaknaan teks yang bersifat dinamis. Kontribusi Saifuddin terletak pada upaya mempromosikan wajah baru kajian living Qur’an dan living hadis yang kontekstual, lintas budaya, dan relevan dengan perkembangan masyarakat modern, termasuk di ruang digital. Artikel ini menyimpulkan bahwa pemikiran Saifuddin memberikan landasan bagi peneliti dalam mengkaji fenomena keagamaan dengan mempertimbangkan teks, konteks sosial, dan partisipan secara simultan.
Copyrights © 2026