Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis resepsi masyarakat terhadap hadis tentang ujian sebagai penggugur dosa pada korban banjir di Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian lapangan (field research) dan paradigma living hadis. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap masyarakat korban banjir, tokoh agama, serta aparatur desa. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles dan Huberman dengan pendekatan teori resepsi, konstruksi sosial Berger dan Luckmann, serta fenomenologi sosial Alfred Schutz. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat Meureudu memahami hadis tentang musibah sebagai penggugur dosa sebagai sumber penguatan spiritual dalam menghadapi bencana. Pemahaman tersebut diperoleh melalui proses transmisi keagamaan yang berlangsung dalam pengajian, ceramah, dan interaksi dengan tokoh agama setempat. Resepsi masyarakat terhadap hadis tersebut terbagi ke dalam dua kecenderungan, yaitu resepsi aktif yang mendorong optimisme dan semangat bangkit pascabencana, serta resepsi fatalistik yang lebih menekankan sikap pasrah terhadap takdir. Hadis tentang ujian sebagai penggugur dosa tidak hanya dipahami secara tekstual, tetapi juga diinternalisasi dalam berbagai praktik keagamaan dan sosial, seperti peningkatan ibadah, zikir, pengajian, serta solidaritas antarwarga. Dalam perspektif fenomenologi Schutz, pemaknaan tersebut dibentuk oleh pengalaman religius masa lalu (because motives) dan harapan memperoleh ketenangan batin serta pahala dari Allah (in-order-to motives). Penelitian ini menunjukkan bahwa hadis berfungsi sebagai mekanisme coping religius yang membantu masyarakat membangun ketahanan mental dan spiritual dalam menghadapi bencana. Temuan ini memperkuat argumentasi bahwa hadis hidup dan beroperasi secara dinamis dalam realitas sosial masyarakat Aceh melalui proses interpretasi, internalisasi, dan aktualisasi dalam kehidupan sehari-hari.
Copyrights © 2026