Abstract. This research is motivated by the issue of environmental damage, with the emergence of the social media phenomenon "eco-anxiety." Generation Z, as a vulnerable group of individuals, the generation that will face the long-term impacts of environmental damage, plays a vital role in efforts to mitigate and adapt to the environmental crisis. This study aims to explore the experience of eco-anxiety and the role of social media exposure in shaping the ecological perceptions of Gen-Z in the urban and suburban areas of Greater Bandung. Using a qualitative phenomenological approach, five participants aged 18–25 were interviewed in-depth. The results show that eco-anxiety manifests in diverse forms, ranging from emotional exhaustion to moral and spiritual responsibility. Social media plays a dual role as both a trigger for anxiety and a means of education. Participants responded to anxiety with community action, creative expression, and spiritual reflection. These findings suggest that eco-anxiety is not merely a psychological disorder, but an ethical and emotional response to the climate crisis, and emphasize the need for empathetic and culturally relevant environmental communication approaches.Abstrak. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh isu kerusakan lingkungan dengan munculnya sebuah fenomena media sosial “eco-anxiety”. Generasi Z (Gen-Z), sebagai kelompok individu yang rentan, generasi yang akan menghadapi dampak jangka panjang kerusakan lingkungan, memiliki peran vital dalam upaya mitigasi dan adaptasi terhadap krisis lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman eco-anxiety dan peran paparan media sosial dalam membentuk persepsi ekologis Gen-Z di wilayah urban dan sub-urban Bandung Raya. Menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi, lima partisipan berusia 18–25 tahun diwawancarai secara mendalam. Hasil menunjukkan bahwa eco-anxiety muncul dalam bentuk yang beragam, mulai dari kelelahan emosional hingga tanggung jawab moral dan spiritual. Media sosial berperan ganda sebagai pemicu kecemasan sekaligus sarana edukasi. Partisipan merespons kecemasan dengan aksi komunitas, ekspresi kreatif, dan refleksi spiritual. Temuan ini menunjukkan bahwa eco-anxiety bukan semata gangguan psikologis, melainkan respons etis dan emosional terhadap krisis iklim, serta menekankan perlunya pendekatan komunikasi lingkungan yang empatik dan relevan secara kultural.
Copyrights © 2026