Akurasi analisis hidrologi di Provinsi Papua Barat terkendala oleh minimnya jumlah dan tidak meratanya sebaran stasiun hujan yang saat ini masih terpusat di wilayah pesisir, sehingga menciptakan celah data di wilayah pegunungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan merasionalkan jaringan 16 pos hujan eksisting di wilayah seluas 59.511,04 guna mendapatkan pola sebaran yang optimal. Metode yang digunakan adalah analisis Kagan-Rodda untuk menetapkan standar kesalahan perataan (smoothing error) dengan instrumen pembanding berupa data observasi permukaan dan data satelit CHIRPS. Tahap awal analisis melibatkan perhitungan koefisien variasi serta pembentukan fungsi korelasi eksponensial untuk mengidentifikasi parameter korelasi spasial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa data satelit CHIRPS memiliki reliabilitas spasial yang lebih tinggi dengan nilai korelasi pada jarak nol () sebesar 0,9497, jauh melampaui data observasi yang hanya sebesar 0,5671. Hanya 31% atau 5 dari 16 pos hujan eksisting yang masuk kategori ideal sesuai standar efektivitas wilayah pegunungan. Melalui skenario tingkat kesalahan 2%, dihasilkan rekomendasi relokasi 16 titik pos hujan yang tersebar secara sistematis di Kabupaten Fak Fak, Kaimana, Manokwari, Pegunungan Arfak, Teluk Wondama, dan Teluk Bintuni. Penataan ulang ini sangat krusial sebagai solusi untuk meningkatkan akurasi monitoring hidrometeorologi serta memberikan presisi estimasi curah hujan wilayah yang lebih baik di bawah ambang batas toleransi kesalahan 10% untuk kepentingan perencanaan pembangunan dan mitigasi bencana di Provinsi Papua Barat.
Copyrights © 2026