Pesatnya perkembangan teknologi finansial telah mendorong transformasi struktural dalam sistem pembayaran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas penerapan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dari perspektif pedagang maupun konsumen dalam meningkatkan efisiensi transaksi, serta mengidentifikasi hambatan operasional dan implikasi perilaku yang muncul di lapangan. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui observasi non-partisipatif dan wawancara semi-terstruktur dengan 5 pemilik UMKM aktif serta 5 konsumen di Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan QRIS berhasil meningkatkan efisiensi transaksi dengan menghilangkan kebutuhan pengelolaan uang kembalian fisik, mengurangi waktu antrian pada jam-jam sibuk, serta mengotomatisasi pencatatan keuangan melalui mutasi rekening bank digital. Dari perspektif konsumen, QRIS menawarkan fleksibilitas yang unggul, memungkinkan mobilitas tanpa uang tunai tanpa ketergantungan pada dompet fisik atau akses ATM. Namun, sejumlah hambatan operasional masih ada, termasuk ketergantungan mutlak pada sinyal telekomunikasi yang dapat menyebabkan keterlambatan atau kedaluwarsa kode, biaya transaksi Merchant Discount Rate (MDR), kekhawatiran psikologis terkait manipulasi kode batang visual, serta kesenjangan digital di kalangan pengguna lanjut usia. Selain itu, kemudahan pembayaran digital yang lancar tanpa hambatan menimbulkan implikasi psikologis berupa kebiasaan pengeluaran pribadi yang kurang disiplin, sehingga memicu perilaku belanja impulsif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun QRIS secara signifikan mengoptimalkan alur kerja operasional, stabilitas jangka panjangnya sangat bergantung pada infrastruktur telekomunikasi lokal dan peningkatan literasi digital yang terarah.
Copyrights © 2026