Menurut Badan Pusat Statistik Indonesia pada tahun 2021, didapatkan 42% lansia dengan keluhan kesehatan sarkopenia yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari sehingga bergantung pada individu lain. Faktor risiko lansia mengalami sarkopenia adalah proses penuaan, asupan protein yang rendah, obesitas dan aktivitas fisik yang rendah. Hal ini dapat dicegah dengan kecukupan asupan protein sesuai kebutuhan yaitu sebanyak ≥1,2 g/kgBB/hari. Penelitian ini bertujuan untuk melihat asosiasi asupan protein terhadap massa otot yang dinilai besarnya melalui lingkar betis lansia di Puskesmas Kelurahan Tomang. Studi ini menggunakan metode penelitian analitik observasional dengan desain potong lintang dan menggunakan instrument kuesioner dan wawancara dietary recall serta pengukuran lingkar betis. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah purposive sampling dan data dianalisis menggunakan uji Chi-square. Total responden pada penelitian ini adalah 194 subjek dan didapatkan sebesar 125 responden (64,4%) memiliki asupan protein diatas kebutuhan dan sebesar 116 responden (59,8%) memiliki lingkar betis yang normal. Setelah dilakukan analisis, didapatkan nilai p < 0,05 yang berarti terdapat asosiasi antara asupan protein dengan lingkar betis sebagai indikator pengukuran massa otot pada lansia.
Copyrights © 2026