Abstrak. Rekonsiliasi spasial dalam industri pertambangan merupakan proses penting untuk mengevaluasi kesesuaian antara rencana penambangan dan realisasi aktual di lapangan. Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat kesesuaian spasial (sequence accuracy) antara rencana dan realisasi penambangan batubara bulan Januari 2025 menggunakan metode rainbow analysis. Analisis dilakukan melalui perbandingan elevasi permukaan rencana dan aktual serta perhitungan volume menggunakan metode cut and fill berbasis block strip berukuran 100 × 100 m dengan batas toleransi kesesuaian 90–110% sesuai standar perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai sequence accuracy sebesar 87,39% untuk overburden dan 59,99% untuk batubara, sehingga masih berada di bawah target perusahaan. Deviasi spasial didominasi oleh kategori undercut sebesar 8,91% pada overburden dan 37,61% pada batubara. Analisis akar penyebab menunjukkan bahwa deviasi tersebut dipengaruhi oleh tingginya downtime alat, perpindahan unit, kondisi jalan yang licin akibat hujan, keterbatasan area kerja (no front), serta kendala pada area ROM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rainbow analysis dapat juga dimanfaatkan sebagai alat monitoring kemajuan tambang dalam mendukung pengambilan keputusan pada short-term mine planning. Abstract. Spatial reconciliation in the mining industry is an essential process for evaluating the compliance between mine plans and actual mining progress. This study aims to analyze the spatial compliance (sequence accuracy) between the planned and actual coal mining progress in January 2025 using the rainbow analysis method. The analysis was conducted by comparing the planned and actual surface elevations and calculating volumes using the cut-and-fill method based on 100 × 100 m block strips, with a spatial compliance tolerance of 90–110% in accordance with the company's operational standard. The results indicate that the *sequence accuracy reached 87.39% for overburden and 59.99% for coal, both of which remain below the company's compliance target. Spatial deviations were dominated by the undercut category, accounting for 8.91% of the overburden and 37.61% of the coal mining areas. Root cause analysis revealed that these deviations were primarily associated with equipment downtime, unit relocation, slippery haul road conditions caused by rainfall, limited mining working faces (no front), and operational constraints in the Run-of-Mine (ROM) area. The findings demonstrate that rainbow analysis can also serve as a practical monitoring tool to support decision-making in short-term mine planning.
Copyrights © 2026