Pernikahan dini masih menjadi masalah kesehatan reproduksi yang dapat memengaruhi kesiapan fisik dan psikologis perempuan dalam menjalani peran sebagai ibu. Ketidaksiapan tersebut berpotensi meningkatkan risiko gangguan psikologis pada masa nifas, salah satunya baby blues syndrome. Di Indonesia, prevalensi baby blues syndrome dilaporkan mencapai 50–70%, sehingga memerlukan perhatian khusus, terutama pada ibu usia muda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pernikahan dini dengan kejadian baby blues syndrome pada ibu usia muda di Desa Banjar, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 45 ibu nifas yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) dan dianalisis menggunakan uji Spearman’s Rho. Sebagian besar responden menikah pada usia ≤20 tahun sebanyak 33 orang (73,3%) dan mengalami baby blues syndrome sebanyak 31 orang (68,9%). Hasil uji Spearman’s Rho menunjukkan nilai p=0,000 (p<0,05), yang berarti terdapat hubungan signifikan antara pernikahan dini dengan kejadian baby blues syndrome pada ibu usia muda. Pernikahan dini berhubungan secara signifikan dengan kejadian baby blues syndrome pada ibu usia muda di Desa Banjar.
Copyrights © 2026