Stunting masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang berdampak terhadap pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, dan kualitas sumber daya manusia. Berbagai faktor diduga berkontribusi terhadap kejadian stunting, di antaranya faktor sosial budaya dan pola asuh keluarga. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan faktor sosial budaya dan pola asuh keluarga dengan kejadian stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Moyo Utara, Kabupaten Sumbawa. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional yang dilaksanakan pada Oktober 2025–Juni 2026. Sampel penelitian berjumlah 100 orang tua yang memiliki balita usia 24–59 bulan, dipilih menggunakan teknik proportional random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia 25–31 tahun (54,0%), berpendidikan SMA/SMK (63,0%), bekerja sebagai ibu rumah tangga (53,0%), memiliki pola asuh yang baik (60,0%), dan kondisi sosial budaya yang baik (62,0%). Analisis bivariat menunjukkan bahwa faktor sosial budaya tidak berhubungan secara signifikan dengan kejadian stunting (p = 0,654), sedangkan pola asuh keluarga berhubungan signifikan dengan kejadian stunting (p < 0,001). Penelitian ini menyimpulkan bahwa pola asuh keluarga merupakan faktor yang berperan penting dalam kejadian stunting, sementara faktor sosial budaya tidak menunjukkan hubungan yang bermakna. Oleh karena itu, upaya pencegahan stunting perlu difokuskan pada peningkatan kapasitas orang tua dalam praktik pengasuhan, pemberian makan, dan pemantauan tumbuh kembang balita.
Copyrights © 2026