Stunting merupakan gangguan pertumbuhan pada anak di bawah usia lima tahun yang disebabkan oleh kekurangan gizi berkepanjangan, sehingga tinggi badan anak berada di bawah standar usianya. Menganalisis pengaruh riwayat pemberian ASI eksklusif terhadap kejadian stunting pada balita. Mengkaji hubungan antara waktu pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) dengan prevalensi stunting pada anak di bawah lima tahun. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dan sampel terdiri dari 31 balita yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner, data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur yang mengukur variabel-variabel penelitian sesuai indikator yang telah ditetapkan. Validitas diuji dengan korelasi item-total, sedangkan reliabilitas diuji menggunakan Cronbach’s Alpha. Analisis data dilakukan secara statistik menggunakan uji Fisher’s Exact Test untuk mengetahui hubungan antar variabel kategorik, terutama jika jumlah sampel kecil. Analisis data meliputi analisis univariat untuk distribusi frekuensi dan analisis bivariat menggunakan Uji Fisher’s Exact. Analisis univariat menunjukkan bahwa 32,3% balita mengalami stunting. Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan secara statistik antara pemberian ASI eksklusif dan kejadian stunting (p = 0,028). Balita yang tidak mendapatkan ASI eksklusif memiliki risiko stunting lebih tinggi (53,8%) dibandingkan dengan balita yang mendapatkan ASI eksklusif (16,7%). Hubungan signifikan juga ditemukan antara pemberian MP-ASI dini dan kejadian stunting (p = 0,015). Balita yang menerima MP-ASI secara prematur memiliki risiko stunting lebih tinggi (58,3%) dibandingkan dengan yang tidak menerima MP-ASI dini (15,8%). Terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara riwayat pemberian ASI eksklusif dan kejadian stunting pada anak usia 24–59 bulan. Pemberian ASI eksklusif dan MP-ASI yang tepat waktu dapat berkontribusi dalam pencegahan stunting.
Copyrights © 2025