Artikel ini menelaah transformasi simbolik dan teologis dalam ritus Menre Bola Baru pada masyarakat Bugis, Sulawesi Selatan. Tradisi ini memadukan tiga lapisan peradaban: unsur prasejarah berupa cap tangan di Leang-Leang, warisan pra-Islam yang meliputi kosmologi I La Galigo dan kepercayaan kepada Dewata SuwaE, serta ekspresi religius Islam yang masuk sejak abad ke-17. Penelitian ini menggunakan kerangka teori Harry J. Benda tentang kontinuitas dan diskontinuitas pengaruh Islam terhadap budaya di Nusantara, yang membedakan antara kontinuitas struktural dan diskontinuitas ideologis dalam proses Islamisasi. Pendekatan hermeneutik diterapkan untuk membaca simbol-simbol ritus serta dinamika reinterpretasinya lintas zaman. Hasil analisis menunjukkan bahwa simbol-simbol budaya Bugis dalam upacara Menre Bola Baru, yang meliputi rumah panggung, cap tangan, narasi sakral, dan peran sanro bola, mengalami kesinambungan kultural sekaligus pergeseran makna teologis yang fundamental. Cap tangan tersebut merupakan warisan prasejarah dan dibaca sebagai akar simbolik yang diwariskan dan diartikulasikan dalam prosesi ritus rumah panggung. Perubahan terjadi dari sakralitas kosmos-leluhur menuju sakralitas transenden dalam Islam. Islamisasi tidak menghapus simbol budaya Bugis, melainkan menafsirkannya ulang sehingga menghasilkan identitas religius yang berakar pada budaya lokal sekaligus terbuka terhadap ajaran Islam.
Copyrights © 2026