Paparan sinar biru (blue light) nokturnal di era digital dicurigai memiliki dampak tersembunyi melampaui disrupsi tidur. Tinjauan ini menguji hipotesis bahwa paparan kronis ini berfungsi sebagai disruptor endokrin berbasis perilaku, dengan fokus pada fisiologi reproduksi dan kesehatan seksual. Tujuan penelitian ini adalah memetakan jalur mekanisme paparan sinar biru terhadap hormon kunci (melatonin, kortisol, testosteron) dan mengevaluasi dampaknya pada kesehatan reproduksi serta libido. Pencarian sistematis (PubMed, Google Scholar) hingga Oktober 2025 dilakukan mengikuti pedoman PRISMA. Sebelas (11) studi—termasuk studi primer (RCT dan observasional) serta tinjauan sistematis/teoretis yang relevan—dianalisis secara naratif. Analisis menunjukkan bukti kausal (dari RCT) bahwa sinar biru secara signifikan menekan melatonin dan mendisregulasi sumbu HPA, yang ditandai dengan melemahnya Cortisol Awakening Response. Bukti lebih lanjut menghubungkan disrupsi sirkadian ini dengan sumbu HPG, termanifestasi sebagai deplesi testosteron (proksi restriksi tidur) dan akselerasi pubertas. Secara krusial, tidak ditemukan studi empiris primer yang secara langsung mengukur 'libido' atau 'kepuasan seksual' sebagai hasil akhir. Paparan sinar biru nokturnal harus dikonseptualisasikan sebagai disruptor endokrin berbasis perilaku. Penurunan libido bukanlah konsekuensi terisolasi, melainkan sequelae klinis (gejala lanjutan) yang logis dari disrupsi hormonal sistemik ini. Tinjauan ini mengidentifikasi kesenjangan bukti yang fundamental, yang mendesak perlunya investigasi empiris primer terhadap variabel psikoseksual dan reproduksi.
Copyrights © 2025