Ritual Egek merupakan praktik adat masyarakat Moi di Malaumkarta, Kabupaten Sorong Papua Barat untuk menghindari ekploitasi sumber daya alam secara berlebihan. Ritual ini bersifat sakral, juga sebagai media komunikasi yang memuat pesan-pesan pelestarian dan penegakan hukum adat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi komunikasi yang tepat untuk mengeksplorasi makna simbolik, bentuk interaksi sosial, dan konteks budaya dalam peristiwa ritual adat. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif yang dilakukan selama tujuh bulan dan wawancara mendalam terhadap enam informan kunci, terdiri atas tetua adat, pemilik marga pesisir, nelayan, dan pemuda adat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa delapan komponen komunikasi dalam model S.P.E.A.K.I.N.G hadir secara sistematis dalam setiap tahapan ritual dan berperan dalam menyampaikan pesan konservasi, meneguhkan kesakralan adat, serta menegakkan norma sosial masyarakat. Temuan ini menunjukkan bahwa ritual Egek tidak hanya berfungsi sebagai larangan pemanfaatan sumber daya alam, tetapi juga sebagai pola komunikasi budaya kolektif yang bersifat performatif dan normatif, yang menghubungkan relasi manusia dengan alam, roh leluhur, dan Tuhan. Kebaruan penelitian ini terletak pada pemaknaan ritual Egek sebagai pola komunikasi budaya yang mengintegrasikan dimensi ekologis, spiritual, dan hukum adat, sehingga memperluas penerapan model S.P.E.A.K.I.N.G dalam kajian komunikasi budaya masyarakat adat.
Copyrights © 2026