Ketahanan pangan menjadi isu krusial di wilayah peri-urban, mengingat perannya yang penting dalam menjaga kesejahteraan masyarakat dan kemandirian lokal. Kalurahan Bangunjiwo merupakan satu-satunya kalurahan yang masih memiliki lahan pertanian di Kapanewon Kasihan, namun menghadapi ancaman serius berupa penyusutan lahan sawah akibat urbanisasi, krisis regenerasi petani, dan keterbatasan infrastruktur irigasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi Pemerintah Kalurahan Bangunjiwo dalam meningkatkan ketahanan pangan lokal serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambatnya. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif, dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan kerangka perencanaan strategis Bryson, Crosby & Stone (2015) Pemerintah Kalurahan Bangunjiwo mengembangkan tiga strategi utama yaitu program Integrated Farming, kemitraan BUMKal dengan Merapi Farm, dan pemberdayaan Kelompok Wanita Tani. Faktor pendukung meliputi musyawarah berjenjang, tradisi gotong royong, dan komitmen kepemimpinan lurah. Adapun faktor penghambat mencakup keterbatasan pengawasan terhadap mekanisme pengecualian LP2B, krisis regenerasi petani, ketiadaan SOP tertulis, dan penurunan Dana Desa sebesar 85% pada tahun 2026. Strategi yang dijalankan sudah cukup adaptif dan kontekstual, namun memerlukan penguatan pengawasan mekanisme pengecualian LP2B, rekrutmen BUMKal berbasis kompetensi, diversifikasi sumber pendanaan, serta program regenerasi petani berbasis insentif guna menjamin keberlanjutan ketahanan pangan lokal. Abstract Food security is a critical issue in peri-urban areas, given its important role in sustaining community welfare and local independence. Bangunjiwo is the only kalurahan that still has agricultural land in Kasihan District, yet faces serious threats including shrinking paddy fields due to urbanization, a farmer regeneration crisis, and limited irrigation infrastructure. This study aims to analyze the strategies of Bangunjiwo Village Government in strengthening local food security and to identify their supporting and inhibiting factors. The method used was a descriptive qualitative approach, with data collected through interviews, observation, and documentation studies. The findings show that based on Bryson, Crosby & Stone (2015) strategic planning framework, the village government developed three main strategies: the Integrated Farming program, a BUMKal partnership with Merapi Farm, and Women Farmer Group empowerment. Supporting factors include tiered deliberation, the gotong royong tradition, and the leadership commitment of the village head. Inhibiting factors include limited oversight of the LP2B exemption mechanism, a farmer regeneration crisis, the absence of written SOPs, and an 85% Village Fund reduction in 2026. The strategies implemented are sufficiently adaptive and contextual, yet require stronger oversight of the LP2B exemption mechanism, competency-based BUMKal recruitment, funding diversification, and incentive-based farmer regeneration programs to ensure the sustainability of local food security.
Copyrights © 2026