Remaja rentan mengalami stress dan masalah kesehatan mental, sehingga dibutuhkan pondasi yang melindungi remaja seperti self resilience. Balai Rehabilitasi Sosial dan Pengasuhan Anak (BRSPA) bertugas melakukan rehabilitasi dan pengasuhan anak terlantar hingga berusia 18 tahun, setelahnya dikembalikan kepada kelurga atau mereka mulai menempuh kehidupan selanjutnya. Sehingga diperlukan kemampuan self resilience yang baikĀ agar remaja dapat menghadapi situasi sulit dalam kehidupan. Menganalisis efektivitas dari bimbingan kesehatan fisik dan mental terhadap self resilience dan Pengasuhan Anak Daerah Istimewa Yogyakarta. Jenis penelitian kuantitatif dengan quasi experimental design dan pendekatan one group pre post test design. Populasi penelitian adalah seluruh remaja putri sejumlah 25 orang dengan menggunakan total sampling. Intervensi yang diberikan berupa bimbingan fisik dalam bentuk senam dan bimbingan mental dalam bentuk aktivitas group guidance. Resiliensi diukur menggunakan alat ukur Child Youth Resilience Measure-Revised (CYRM-R).Uji analisis menggunakan uji Wilcoxon Signed-Rank Test untuk membandingkan nilai self resilience. Sebelum pelaksanaan bimbingan fisik dan mental, responden memiliki resiliensi mayoritas dalam kategori rendah. Sedangkan setelah dilaksanakan bimbingan fisik dan mental, responden mayoritas memiliki resiliensi dalam kategori rendah dan sedang dengan frekuensi yang sama. Sehingga terdapat perbedaan resiliensi diri sebelum dan sesudah bimbingan fisik dan mental.
Copyrights © 2026