ABSTRAK Berdasarkan Global Adult Tobacco Survey (GATS) tahun 2021 di Indonesia, prevalensi merokok pada remaja usia 15–24 tahun menunjukkan bahwa 53,6% laki-laki dan 1,6% perempuan adalah perokok. Data Dinas Kesehatan Provinsi NTT tahun 2022 juga mencatat prevalensi merokok pada remaja sebesar 18,3% (105.597 orang), dan pada periode Januari–Oktober 2023 sebesar 16,9% (107.167 orang) dari total 661.040 remaja yang diskrining. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara sikap dan kepercayaan diri dengan perilaku merokok pada remaja di Kelurahan Teunbaun. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional dan melibatkan 65 responden yang dipilih melalui teknik simple random sampling dengan perhitungan rumus Lemeshow. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara sikap (p-value = 0,002) dan kepercayaan diri (p-value = 0,000) dengan perilaku merokok. Remaja dengan sikap yang kurang baik cenderung merokok karena dipengaruhi lingkungan dan persepsi pribadi, sedangkan remaja dengan sikap baik lebih termotivasi untuk tidak merokok. Kepercayaan diri yang tinggi saat merokok juga membuat remaja terdorong mempertahankan kebiasaan tersebut. Berdasarkan wawancara, kemudahan akses rokok, lingkungan yang permisif, dan kurangnya himbauan menjadi faktor utama remaja merokok. Pemerintah diharapkan dapat menjalin kerja sama lintas sektor, termasuk puskesmas dan sekolah, untuk mengadakan kampanye bahaya merokok yang melibatkan remaja secara aktif. ABSTRACT Based on the 2021 Global Adult Tobacco Survey (GATS) in Indonesia, the prevalence of smoking among adolescents aged 15–24 years shows that 53.6% of males and 1.6% of females are smokers. Data from the NTT Provincial Health Office in 2022 also recorded a smoking prevalence among adolescents of 18.3% (105,597 people), and in the period January–October 2023, 16.9% (107,167 people) of a total of 661,040 adolescents screened. This study aims to determine the relationship between attitudes and self-confidence and smoking behavior among adolescents in Teunbaun Village. The study used a quantitative method with a cross-sectional design and involved 65 respondents selected through simple random sampling using the Lemeshow formula. The results showed a significant relationship between attitude (p-value = 0.002) and self-confidence (p-value = 0.000) and smoking behavior. Adolescents with poor attitudes tended to smoke because they were influenced by their environment and personal perceptions, while adolescents with good attitudes were more motivated not to smoke. High self-confidence when smoking also encourages adolescents to maintain this habit. Based on interviews, easy access to cigarettes, a permissive environment, and a lack of warnings are the main factors that cause adolescents to smoke. The government is expected to establish cross-sectoral cooperation, including community health centers and schools, to conduct campaigns on the dangers of smoking that actively involve adolescents.
Copyrights © 2026