Organisasi kesehatan dunia (WHO) menempatkan Indonesia sebagai negara ketiga dengan angka prevalensi stunting tertinggi di Asia Tenggara pada 2017 angkanya mencapai 36,4 persen. prevalensi stunting di Indonesia masih lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia tenggara,seperti Banglades (36,1%),Neval (35,8%),Bhutan (31,6%) Myanmar (29,2%),Korea Utara (22,9%) Maldives (20,3%),Srilanka (17,3%) dan Tailand (10,5%). sekitar 150,8 juta balita di dunia mengalami stunting. Namun angka ini sudah mengalami penurunan jika dibandingkan dengan angka stunting pada tahun 2000 yaitu 32,6%. Pada tahun 2017, lebih dari setengah balita stunting di dunia berasal dari Asia (55%) sedangkan lebih dari sepertiganya (39%) tinggal di Afrika. Dari 83,6 juta balita stunting di Asia, proporsi terbanyak berasal dari Asia Selatan (58,7%) dan proporsi paling sedikit di Asia Tengah (0,9%), oleh karna itu prevalensi stunting nasional mencapai 37,2%, menurun ditahun 2018 menjadi 30,8%. Penurunan angka stunting di Indonesia adalah kabar baik, akan tetapi belum berarti sudah bias membuat tenang,karena bila merujuk pada standar WHO, batas maksimalnya adalah 20% atau seperlima dari jumlah total anak balita, prevlaensi balita pendek menjadi masalah kesehatan masyarakat jika prevalensinya 30% atau lebih.periode 0-24 bulan merupakan periode yang menetukan kualitas kehidupan sehingga disebut dengan golden periode. Dampak buruk dapat ditimbulkan oleh masalah gizi pada 1000 HPK atau satu diantaranya adalah stunting. Prevalensi stunting tertinggi terjadi pada anak saat berusia 24-59 bulan. Proses menjadi pendek atau stunting pada anak disuatu wilayah atau daerah miskin dimulai sejak usia sekitar 6 bulan awal kehidupan serta berlangsung terus sampai usia 18 tahun. Stunting terjadi dalam usia 36 bulan pertama biasaya disertai dengan efek jangka panjang.
Copyrights © 2026