Karya sastra merupakan hasil kreativitas manusia sebagai makhluk sosial dan berkembang dalam kelompok masyarakat. Dalam konteks sastra lisan, karya sastra hadir sebagai representasi nilai, pandangan hidup, serta pengalaman kolektif yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satunya tradisi lisan Bulèng sebagai bentuk ekspresi yang berkembang di tengah masyarakat Betawi dan masih dipertahankan. Penelitian ini mengkaji tradisi lisan Bulèng yang dipentaskan oleh Suaeb Mahbub di Rumah Si Pitung dengan judul Aki Tirem. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan analisis struktural dan pendekatan etnografi untuk mendeskripsikan struktur teks, konteks penuturan, dan proses penciptaan tradisi lisan Bulèng. Penelitian ini dilakukan di Marunda Kepu, Cillincing, Kota Jakarta Utara., sebagai wilayah yang masih mempertahankan tradisi lisan Bulèng. Teknik pengumpulan data meliputi studi pustaka, wawancara, perekaman, serta pencatatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur teks tradisi lisan Bulèng terdiri atas unsur tema, latar, alur, tokoh dan penokohan yang saling berkaitan. Selain itu, konteks penuturan tradisi lisan Bulèng dipengaruhi oleh situasi pertunjukan, peran penutur, serta kondisi sosial dan budaya masyarakat Betawi (Marunda) yang menjadi latar berlangsungnya pertunjukan. Kemudian, proses penciptaan tradisi lisan Bulèng bukanlah sebagai tindakan individual melainkan sebagai hasil dari proses kolektif yang berlangsung secara turun-temurun. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam kajian sastra lisan, khususnya dalam upaya pendokumentasian dan pemahaman tradisi lisan Bulèng.
Copyrights © 2026