Artikel ini berangkat dari kegelisahan akademik atas dikotomi studi Islam kontemporer, di mana tafsir Al-Qur’an sering berhenti pada dimensi normatif-spiritual, sementara teori sosial klasik seperti pemikiran Ibnu Khaldun cenderung dibaca secara historis-deskriptif tanpa integrasi dengan pesan teologis. Padahal, umat Islam saat ini menghadapi krisis multidimensi, seperti disintegrasi sosial, krisis kepemimpinan, dan melemahnya orientasi spiritual, yang menuntut pendekatan integratif. QS. ad-Duḥā [93]:4 dipilih karena memuat paradigma optimisme teologis dan janji ilahi tentang perbaikan pasca-krisis. Sementara itu, teori siklus peradaban dalam Al-Muqaddimah menjelaskan dinamika naik-turun peradaban yang dipengaruhi faktor moral, sosial, dan politik. Penelitian ini tidak bermaksud mencocokkan ayat dengan teori, tetapi mengeksplorasi titik temu epistemologis antara wahyu dan analisis sosial. Dengan pendekatan teo-historis dan metode kualitatif berbasis kajian pustaka serta tafsir tematik, ditemukan bahwa keduanya menegaskan keterpurukan sebagai fase transisi menuju kebangkitan melalui pembaruan nilai. Studi ini menawarkan kerangka pemikiran Islam yang holistik, bahwa transformasi sosial tidak hanya bersifat struktural, tetapi juga spiritual, dengan harapan, kesabaran, dan pembaruan nilai sebagai fondasi utama perubahan berkelanjutan.
Copyrights © 2026