Krisis dehumanisasi dan reduksionisme teknokratis dalam pendidikan modern menuntut adanya reorientasi paradigma belajar yang tidak hanya berfokus pada capaian kognitif-materialis, melainkan juga menyentuh dimensi spiritual dan fitrah manusia. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan kembali konsep potensi belajar dalam Al-Qur’an serta mengelaborasi relevansi praksisnya bagi pembaruan pendidikan abad ke-21. Menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka (library research) dengan pendekatan tafsir tematik (maudhu‘i), data dianalisis secara kritis dari ayat-ayat Al-Qur’an, kitab tafsir klasik-kontemporer, serta literatur pendidikan terkait. Kebaruan (novelty) penelitian ini terletak pada sintesis konseptual yang melampaui kajian normatif-teologis terdahulu, yakni dengan menyelaraskan secara eksplisit epistemologi pencerapan Qur’ani (al-sam‘, al-absar, al-af’idah) dengan temuan neurosains pembelajaran (prefrontal cortex dan sistem limbik) serta teori-teori pendidikan modern (Experiential Learning Kolb dan Konstruktivisme Vygotsky). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Qur’an memosisikan potensi belajar sebagai fitrah bawaan (innate potential) yang berorientasi pada proses ta’dib (pembentukan manusia beradab). Melalui analisis kisah Nabi Musa AS dan Khidr AS (QS. Al-Kahfi: 60–82), ditemukan kerangka pedagogi berbasis pengalaman dan konstruktivisme spiritual yang menghadirkan konsep literasi maknawi (Iqra'), MKO Transendental, dan divine scaffolding. Implikasi praktis dari penelitian ini menawarkan model transformasi pendidikan kontemporer pada tiga domain utama: (1) penerapan Interconnected Curriculum yang mengeliminasi dikotomi sains-agama melalui pembelajaran berbasis masalah/proyek (2) reorientasi peran guru dari sekadar instruktur pengetahuan menjadi mu’addib yang merespons diferensiasi modalitas belajar siswa; serta (3) pembentukan budaya sekolah berbasis asesmen otentik holistik yang mengukur keseimbangan antara nalar kritis, adab, dan kesadaran spiritual.
Copyrights © 2026