Krisis iklim ini telah mempengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat, terutama di daerah pesisir, pedesaan, dan komunitas adat di Indonesia Timur. Dampaknya tidak hanya berupa degradasi lingkungan, tetapi juga memperburuk ketidaksetaraan gender, meningkatkan kerentanan sosial-ekonomi, dan memicu risiko kekerasan berbasis gender (GBV). Perempuan di daerah-daerah ini sering berada di garis depan dalam tanggap darurat, memanfaatkan pengetahuan lokal yang diwariskan turun-temurun untuk menjaga ketahanan pangan, ekonomi rumah tangga, dan keberlanjutan ekosistem. Praktik-praktik seperti diversifikasi pangan, berkebun di halaman belakang, konservasi mangrove, meti-meti di komunitas Bajau, dan teknik balobe di Papua mencerminkan peran strategis perempuan dalam adaptasi berbasis komunitas. Berbagai temuan menunjukkan bahwa strategi adaptasi yang dipimpin perempuan tidak hanya reaktif, tetapi juga proaktif dalam mengantisipasi risiko iklim dan mengurangi kerentanan komunitas. Namun, kontribusi ini seringkali terpinggirkan dari kebijakan formal. Oleh karena itu, mengintegrasikan perspektif gender dan mengakui pengetahuan lokal perempuan merupakan kunci untuk memperkuat ketahanan komunitas terhadap krisis iklim secara berkelanjutan.
Copyrights © 2025