Peningkatan intensitas penggunaan platform TikTok di kalangan mahasiswa Indonesia berdampak pada meningkatnya konsumsi konten Boys' Love (BL), yaitu genre fiksi romantis sesama jenis yang berakar dari tradisi manga Jepang. Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran serius terkait perilaku adiktif dan kemampuan mahasiswa dalam mengendalikan konsumsi konten digital, mengingat platform TikTok dirancang dengan arsitektur algoritmik yang secara sengaja memaksimalkan keterlibatan pengguna melalui mekanisme reward dopaminergik berulang. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan pengalaman mahasiswa dalam mengonsumsi konten BL di TikTok beserta indikator adiktifnya; (2) menganalisis fungsi dan bentuk-bentuk self-control yang diterapkan mahasiswa; serta (3) mengidentifikasi faktor-faktor yang memfasilitasi atau menghambat kemampuan pengendalian diri. Pendekatan kualitatif fenomenologis digunakan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur terhadap enam informan mahasiswa aktif pengguna TikTok yang dipilih secara purposif. Analisis data dilakukan dengan bantuan perangkat lunak NVivo 15 berdasarkan hasil temuan wawancara, melalui proses koding dan kategorisasi hingga terbentuknya tema-tema utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi konten BL memperlihatkan sejumlah indikasi kecenderungan perilaku adiktif yang meliputi dominasi konten pada For You Page (FYP) algoritmik, modifikasi suasana hati, gangguan pada pola tidur dan produktivitas akademik, serta pola kekambuhan. Self-control mahasiswa menjalankan tiga fungsi utama: preventif melalui modifikasi lingkungan digital, kuratif melalui penetapan jadwal dan pengalihan aktivitas, serta kompensatoris melalui regulasi konsumsi berbasis porsi. Faktor penghambat utama adalah arsitektur algoritmik TikTok, fungsi koping emosional konten BL, dan keterikatan identitas sosial dalam komunitas fandom. Temuan ini berimplikasi pada pentingnya intervensi bimbingan dan konseling berbasis penguatan literasi digital kritis, manajemen tujuan yang bersaing, serta pengembangan strategi koping alternatif yang sehat.
Copyrights © 2026