Tantangan literasi di era digital semakin kompleks seiring dominasi media visual dan konten instan yang menurunkan minat baca, termasuk di Surabaya sebagai kota metropolitan berkembang di bidang pendidikan. Rendahnya budaya literasi dan keterbatasan fasilitas perpustakaan interaktif menjadi hambatan utama. Peranacangan ini menggunakan pendekatan arsitektur edukatif dengan konsep makro edukasi inklusif serta konsep mikro tatanan lahan intuitif, adaptive learning, dan ruang intuitif inklusif. Pendekatan deskriptif kuantitatif dan metode perancangan arsitektur educative diterapkan melalui analisis literatur dan objek lapangan yang relevan. Desain perpustakaan difokuskan pada pembelajaran aktif melalui aktivitas sensorik, motorik, fungsi baca, dan ruang interaktif yang selaras dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan pengguna dari anak-anak hingga lansia. Tatanan lahan dirancang harmonis antara ruang dalam dan luar, di mana area komunal luar seperti taman dan playground berfungsi sebagai perpanjangan ruang belajar. Bentuk bangunan mengadopsi elemen geometris sederhana untuk kesan dinamis dan mudah dipahami, menggunakan material ramah lingkungan yang juga menjadi media belajar. Ruang dalam disesuaikan dengan kebutuhan berdasarkan kelompok usia. Perpustakaan ini diharapkan menjadi pusat literasi inklusif dan ruang tumbuh bersama yang mendorong pembelajaran lintas generasi di Surabaya.
Copyrights © 2026