Madu lebah sebagai pangan lokal kaya energi dan antioksidan berpotensi menjadi intervensi sederhana untuk meningkatkan nafsu makan dan memperbaiki status gizi anak. Penelitian ini menggunakan desain quasi-experimental dengan pretest-posttest control group design. Sebanyak 30 anak stunting dibagi menjadi kelompok intervensi (n=15) dan kelompok kontrol (n=15). Kelompok intervensi diberikan madu lebah selama satu bulan, sedangkan kelompok kontrol memperoleh perlakuan standar. Variabel yang diamati meliputi pola makan, lingkar lengan atas (LILA), berat badan, tinggi badan, dan nilai Z-score berat badan menurut umur (BB/U). Analisis data menggunakan paired t-test, independent t-test, dan Mann–Whitney U test dengan tingkat signifikansi p<0,05. Kelompok intervensi menunjukkan peningkatan yang signifikan pada skor pola makan (p<0,001), LILA (p<0,001), berat badan (p=0,001), dan nilai Z-score BB/U (p=0,004). Terdapat perbedaan bermakna antara kelompok intervensi dan kontrol pada pola makan setelah intervensi (p<0,001), LILA (p=0,003), dan nilai Z-score BB/U (p=0,025). Sebaliknya, tinggi badan tidak menunjukkan perubahan yang signifikan (p>0,05). Pemberian madu lebah efektif meningkatkan nafsu makan, LILA, berat badan, dan status gizi berdasarkan Z-score BB/U pada anak stunting, namun belum memberikan pengaruh yang bermakna terhadap pertumbuhan tinggi badan selama periode intervensi. Madu lebah berpotensi menjadi intervensi pendukung berbasis kearifan lokal dalam upaya pencegahan dan penanggulangan stunting
Copyrights © 2026