Keluarga merupakan lingkungan utama dalam perkembangan psikososial remaja. Kondisi keluarga broken home akibat perceraian atau kematian orang tua dapat meningkatkan kerentanan remaja terhadap gangguan kesehatan mental. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara status broken home dengan tingkat gangguan kesehatan mental pada remaja di Malang menggunakan instrumen SRQ-29. Penelitian menggunakan desain cross sectional. Sampel terdiri dari remaja di Malang yang mengalami kondisi broken home dengan berbagai penyebab. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner Self Reporting Questionnaire-29 (SRQ-29) untuk mengukur gangguan mental emosional. Analisis data menggunakan uji statistik untuk melihat hubungan antara penyebab broken home dengan hasil skrining SRQ-29. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara usia p = 0,046, penyebab broken home p = 0,049, dan orang yang ditinggali p = 0,045 dengan hasil skrining SRQ-29. Remaja dengan broken home akibat perceraian, usia 14-16 tahun, dan yang tinggal sendiri cenderung memiliki proporsi lebih tinggi pada kategori ansietas, Napza, dan PTSD. Sementara variabel jenis kelamin, pendidikan, dan pekerjaan orang tua tidak menunjukkan hubungan yang bermakna dengan hasil skrining SRQ-29.
Copyrights © 2026