Penelitian ini bertujuan menganalisis potensi nilai ekonomi karbon sebagai katalisator dalam upaya dekarbonisasi pembangkit listrik berbasis Energi Baru Terbarukan di Nusa Penida, Bali. Sektor ketenagalistrikan merupakan kontributor emisi GRK signifikan, dan transisi ke EBT seringkali terkendala aspek finansial; NEK hadir sebagai solusi pembiayaan inovatif yang menginternalisasi biaya lingkungan. Menggunakan pendekatan kuantitatif studi kasus, data operasional dari PLTS Hibrida dianalisis untuk menghitung volume pengurangan emisi CO2e yang dihindari dibandingkan dengan skenario Business as Usual (PLTD). Hasil penelitian menunjukkan proyek EBT di Nusa Penida mampu mengurangi emisi sebesar 4.19 ton CO2e per tahun, menghasilkan potensi pendapatan karbon yang signifikan. Analisis kelayakan finansial menggunakan NPV dan IRR mengindikasikan bahwa inklusi pendapatan NEK secara substansial meningkatkan kelayakan investasi proyek, mentransformasi manfaat lingkungan menjadi aset ekonomi yang viable. Penelitian sebelumnya sering berfokus pada skala nasional atau jaringan interkoneksi besar Jawa-Bali. Secara spesifik menganalisis implementasi NEK pada sistem jaringan isolated di Nusa Penida, yang memiliki karakteristik bauran energi dan tantangan operasional yang unik. penelitian ini menggunakan data operasional aktual dari PLTS hibrida yang sudah terpasang di lapangan untuk perhitungan emisi yang lebih akurat. Penelitian ini tidak hanya menghitung volume karbon yang dihemat, tetapi juga mengintegrasikan nilai moneter karbon tersebut ke dalam analisis kelayakan investasi yang komprehensif.
Copyrights © 2026